Adopsi, antara Pilihan atau Takdir

by Shining on

“Penyesalan itu sebenarnya ada, tapi aku tak mau membuat perasaan itu benar-benar ada, saat ini tugasku adalah sebagai orang tuanya,” ungkap Dwi, wanita yang melakukan adopsi.

Sudah hampir 5 tahun Dwi dan Harno menikah, pasangan yang tinggal di Bekasi ini belum kunjung diberikan momongan. Putus asa, kesal, bahkan hampir menyalahkan hidup yang tak adil seringkali terucap dari mulut Dwi. Namun, di dalam doa-doanya, ia tetap mempunyai satu keinginan, yaitu memiliki seorang anak, walau keinginan itu hampir saja membuatnya putus asa.

Dwi dan Harno adalah salah satu dari banyaknya pasangan suami istri yang mengambil keputusan untuk mengadopsi seorang anak. Walau ada beberapa dari pasangan ketika mengambil jalan adopsi adalah sebagai pancingan agar segera memiliki anak kandung, namun hal tersebut tak berlaku bagi Dwi dan Harno. Pasalnya, semenjak di usia ke-5 pernikahan mereka, Dwi dan Harno sudah dinyatakan tak bisa memiliki anak, dikarenakan salah satu ada yang mandul.

Bukan hal yang mudah bagi mereka untuk memutuskan mengadopsi seorang anak, butuh beberapa bulan setelah dinyatakan tak bisa memiliki anak, pasangan Dwi dan Harno akhirnya memutuskan untuk melakukannya. Pilihan saat itu jatuh kepada anak dari sepupunya yang kondisi sosialnya terbilang lemah. Nama anak itu Banu, walau bukan nama asli dari pemberian orang tua kandungnya, namun nama Banu lah yang paling dikenal oleh tetangga dan keluarga dekat.

Banu tumbuh menjadi anak yang sangat aktif dan cenderung kreatif. Beberapa mainan yang dibelikan ayahnya selalu diubahnya menjadi tak biasa, dimodifikasi katanya. Dwi mengatakan, anak-anak sebayanya pun sangat senang bermain dengan Banu, selain karena pribadinya yang periang, Banu juga punya banyak mainan tentunya.

Waktu terus berjalan, Banu kian tumbuh menjadi remaja pria yang berbadan tinggi besar, lebih besar dari rata-rata anak seusianya. Kelas 5 sekolah dasar, merupakan titik awal dimana Dwi merasa Banu semakin nakal, bukan nakal anak-anak seusianya, tapi lebih dari itu. jika anak-anak SD bertengkar, atau menangis karena meminta sesuatu, mungkin Dwi masih bisa tolerir, tapi ketika anak SD berusaha ingin memperkosa anak wanita yang lebih kecil beberapa tahun darinya, bagaimana menurut kalian?

Dwi dan Harno memang tipikal orang tua yang sangat memanjakan keinginan anaknya, hal tersebut yang membuat Banu tumbuh menjadi anak yang manja dan nakal. Kenakalan yang dilakukan Banu pun seringkali malah ditanggapi dengan lembut oleh Dwi dan Harno, meminta apapun selalu dituruti.

Mereka seolah tak berdaya menanggapi setiap ulah dari Banu, semakin besar, Banu semakin menjadi-jadi. Kenakalannya pun membuat beberapa temannya ikut terpengaruh, mulai dari minum alkohol, bolos sekolah, tawuran, bahkan sampai haru dikeluarkan dari SMA nya karena terlalu banyak absen.

Kondisi tersebut membuat Dwi dan Harno kesal, Banu yang saat itu berusia 17 tahun pun akhirnya harus mengetahui fakta bahwa dirinya bukanlah anak kandung dari Dwi dan Harno setelah pasangan suami istri tersebut berbicara serius kepadanya. Hal tersebut membuat Banu bukan lebih baik, melainkan semakin membuat hidupnya tak jelas.

Sempat beberapa kali ingin dimasukan kembali ke sekolah untuk menamatkan SMA nya, namun Banu menolaknya, ia memberontak dan tak ingin lagi diatur oleh Dwi dan Harno. Dwi pun pasrah, sempat dia benar-benar tak perduli dengan Banu, namun petaka itu justru kembali datang. Banu yang pengangguran menghamili seorang wanita asal Sukabumi.  Mungkin sekilas apa yang dialami Dwi dan Harno mirip sekali dengan cerita di film atau sinetron. 

Tapi hal tersebut tak pernah mereka bayangkan akan menimpanya. Sampai ia tak kuat lagi, dan rasa sesal hampir terus menghampirinya. “Penyesalan itu sebenarnya ada, tapi aku tak mau membuat perasaan itu benar-benar ada, saat ini tugasku adalah sebagai orang tuanya,” ungkap Dwi, wanita yang melakukan adopsi.

Saat ini, Banu yang kemudian menikahi wanita tersebut, sedikit lebih baik karena memiliki tanggung jawab sebagai seorang suami. Walaupun begitu, tetap saja ia tak bekerja layaknya seorang ayah yang mencarikan nafkah untuk keluarganya. Kesibukannya setiap hari mengantarkan sang istri yang bekerja, sambil mengurus rumah dan menjaganya.

Dwi hanya bisa lapang dada, bahwa apa yang ia terima dalam hidupnya merupakan suatu ujian dari tuhan yang kelak mempunyai maksud dan tujuan tertentu.

Written by: Shining

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *