Dini dan Fenomena di Kampungku

4 comments 6537 views
pernikahan dini

Gambar: hendiburahman

Dini dan Fenomena di Kampungku - Dini seorang gadis SMU yang pintar dan mempunyai banyak teman. Di satu liburan sekolah dia pergi ke Bandung dimana dia bertemu seorang pria tampan nan baik hati. Dini menyukai pria itu dan kemudian mengundangnya di pesta mewah perayaan ulang tahunnya. Di balik kemeriahan perayaan itu terjadilah awal konflik kehidupan mereka dimana pada akhirnya Dini mengandung janin hasil dari perbuatannya. Pengasihan dirinya serta deretan konflik lainnya menjadi barisan cerita yang mereka harus jalani.

Penghujung tahun 2011 dengan suasana musim hujan yang seringkali membuat para petani di kampung kami harus menunda untuk berkarya di ladang-ladang mereka. Saat seperti itu memang asyik untuk berkumpul dan berbincang-bincang mengenai hal yang terjadi di sekitar, dan saya rasa akan lebih enak kalau ada singkong atau pisang goreng. Obrolan seperti ini hanya terjadi sebulan sekali ketika saya pulang ke kampung pelosok saya yang jarak dari jalan raya pantura sekitar 3 km dan tidak ada angkutan umum yang melewati kampung saya. Obrolan siang mendung itu menjadi hangat saat ada seorang pembeli di warung kecil di rumah saya yang katanya akan segera melangsungkan pesta pernikahan anak sulungnya.

Dini dan Fenomena di Kampungku

Saya rasa pernikahan itu merupakan satu hal yang sakral bertalian dengan adat istiadat, agama dan kehidupan masyarakat serta suatu yang serius untuk dipersiapkan matang-matang; ini bukan hanya satu hari kemeriahan pesta tanpa adanya konflik dan cerita sedih di lembaran hari selanjutnya selain sejuta cerita senang lainnya. Pandangan, ujaran atau pendapat yang mengatakan bahwa orang yang memutuskan untuk menikah dengan sendirinya akan menghilangkan kecemasan hidup akan mendapatkan rezeki untuk keluarganya, pasti ada saja jalan untuk menghidupi dapur keluarga, bukanlah satu hal yang salah meski tak selamanya benar adanya.
Si ibu yang belanja tadi bercerita tentang keinginan anak laki-laki sulungnya yang sudah “mantap” (meski saya melihat hal tersebut bukan suatu kemantapan namun kenekatan) untuk menikah di usia yang masih di bawah umur untuk secara hukum menikah secara legal formal. Dalam pasal 7 ayat 1 undang-undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan disebutkan bahwa “Perkawinan hanya diizinkan bila pihak pria mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun dan pihak wanita sudah mencapai usia 16 (enam belas) tahun”. Dan saya agak sedikit kaget ketika mengetahui bahwa usia anak laki-lakinya baru mencapai 17 tahun dan calon mempelai perempuannya baru 15 tahun.

Pro dan Kontra Pernikahan Dini

Penikahan usia mudah yang menjadi fenomena sekarang ini pada dasarnya merupakan satu siklus fenomena yang terulang dan tidak hanya terjadi di daerah pedesaan yang notabene dipengaruhi oleh minimnya kesadaran dan pengetahuan namun juga terjadi di wilayah perkotaan yang secara tidak langsung juga dipengaruhi oleh ‘role model’ dari dunia hiburan yang mereka tonton. Penelitian yang dilakukan oleh Ikatan Sosiologi Indonesia (ISI) Jawa Barat mengungankan fakta masih tingginya pernikahan di usia muda di pulau Jawa dan Bali. Diantara wilayah-wilayah tersebut, Jawa Barat di posisi pertama dalam jumlah pasangan yang menikah di usia muda dimana dari 1000 penduduknya dengan usia 15 hingga 19 terdapat 126 orang yang menikah dan melahirkan di usia muda. Kemudian diikuti dengan DKI Jakarta dengan 44 orang.

[iklan3]

Sikap atas persoalan ini terbagi dalam dua sisi yang berseberangan. Dengan alasan bahwa dengan menikah di usia muda akan menghindari hal-hal yang dilarang baik asas agama pun sosial di tengah gejolak pergaulan yang semakin ‘menggila’ seperti saat ini. Alasan lain adalah pikiran bahwa dengan menikah muda, mereka akan masih sehat dan aktif berkarya di saat anak-anak mereka tumbuh besar yang membutuhkan biaya untuk keperluan pendidikan dan persoalan lainnya. Selain itu muncul pula alasan nyeleneh yang mengatakan bahwa nikah muda itu ‘asyik’, pokoknya asyik aja. Meskipun dengan dalih dari pada terjerat dalam pergaulan bebas dan menghindari terjadinya hamil di luar pernikahan, Ketua Pengadilan Agama Bandung Drs. H. Muslih Munawar, S.H. tegas-tegas menolak. "Yang namanya hukum itu tidak ada alasan 'daripada-daripada'. Misalnya daripada saya membunuh lebih baik sayamenempeleng. Daripada saya berbuat dosa, saya menikah saja. Itu namanya helah, yaitu supaya tidak terjerat haram maka hukum digeser-geser. Apalagi yang namanya menikah itu kan niatnya ibadah," katanya.

Dari pihak yang berseberangan melihat dan menelaah bahwa mereka yang menikah muda akan lebih cenderung untuk mengalami kegagalan dalam rumah tangga mereka. Tingginya perkara perceraian di hampir semua daerah yang menjadi area penelitian ISI berbanding lurus dengan tingkat penikahan di usia muda. Namun dalam alasan perceraian tentu saja bukan karena alasan kawin muda, melainkan alasan ekonomi dan lain sebagainya. Tetapi masalah tersebut tentu saja sebagai salah satu dampak dari pernikahan yang dilakukan tanpa kematangan usia dan psikologis.

Dampak lain dari persoalan ini adalah laju perkembangan penduduk yang bila tidak terkontrol dapat mengakibatkan terjadi ledakan penduduk mengingat usia muda akan mendorong tingginya rata-rata tingkat kesuburan atau total fertility rate. Hal ini secara sederhana dapat dijelaskan bahwa banyak pasangan menikah mudah maka secara otomatis meningkat pula tingkat kesuburan yang pada akhirnya akan meningkat pula tingkat kelahiran bayi. Setali tiga uang dengan alasan tersebut, risiko terjadinya kematian akibat melahirkan pun akan semakin tinggi karena secara kematangan psikologis dan organ reproduksi masih lebih rendah bila dibandingkan dengan ibu-ibu yang telah dewasa.

[showmyads]

Menikah di usia muda juga akan menimbulkan banyak permasalahan di berbagai sisi kehidupan; ekonomi misalnya, dengan tingkat pendidikan rendah yang dimiliki pasangan akan menyulitkan mereka untuk mendapatkan pekerjaan yang layak yang berimbas pada kurangnya kecukupan secara ekonomi dalam rumah tangga. Terlebih bila menikah muda itu karena alasan kehamilan di luar pernikahan yang seringkali memicu konflik keluarga, gunjingan dan penolakan masyarakat itu dapat memicu tekanan pasangan muda. Dan tekanan tersebut dapat mempengaruhi persoalan-persoalan kekerasan dalam rumah tangga.

Peran masyarakat dan agama tentang Pernikahan Dini

Sebenarnya saya tidak perlu kaget lagi mendengar penyataan dari si ibu tersebut, karena itu bukan cerita pertama yang saya dengar tentang remaja-remaja di kampung saya yang menikah di usia ‘belia’; hampir dapat dikatakan sering ibu saya cerita bahwa si anu mau nikah dengan si itu, si sono mau nikah dengan si komo, dan blah blah blah dan hampir semuanya masih berumur di bawah ketentuan untuk dapat menikah. Saya tidak sepenuhnya dapat mengatakan itu tidak benar, itu salah , itu menyalahi aturan yang berlaku karena setelah melihat pasal yang pada ayat 2 yang menyebutkan bahwa “Dalam hal penyimpangan dalam ayat (1) pasal ini dapat minta dispensasi kepada Pengadilan atau pejabat lain yang diminta oleh kedua orang tua pihak pria atau pihak wanita”. Lalu apa yang terjadi dengan kelonggaran ini? Yang terjadi adalah jual-beli umur dan pemalsuan semua dokumen diri di pengadilan yang kata si ibu pembeli tadi menelan biaya yang “lumayan” untuk orang kampung yang hanya bekerja sebagai buruh di perkebunan karet.

Lalu pertanyaan selanjutnya “Di posisi manakah masyarakat dan agama harus berperan dalam persoalan ini?” Masih dalam undang-undang yang sama di pasal 6 ayat 6 menyatakan bahwa dispensasi itu berlaku sepanjang hukum masing-masing agama dan kepercayaan itu dari yang bersangkutan tidak menentukan lain. Untuk hal itu, sejauh yang saya pelajari tentang fiqih dan islam, orang yang mengerti tentang hal itu harus memberikan pandangan selurus dan sejernih mungkin sehingga tidak ada wilayah yang abu-abu. Hukum asal dari pernikahan itu sendiri adalah mubah (boleh); dan hukum asal itu akan berubah dilihat dari situasi dan kondisi yang ada. Hukum itu bisa jadi sunah dipandang dari pertumbuhan secara jasmani, keinginan untuk berumah tangga, kesiapan mental, kesiapan membiayai kehidupan berumah tangga telah benar-benar ada. Wajib bilamana seseorang telah cukup matang untuk berumah tangga, baik dilihat dari segi pertumubuhan jasmani dan rohani, maupun dari kesiapan secara mental, kemampuan untuk membiayai kehidupan rumah tangga dan alasan agar tidak terjerumus dalam area zina. Makruh bilamana dilakukan oleh seseorang yang belum siap jasmani, rohani, maupun kesiapan untuk membiayai rumah tangga. Dan terakhir adalah haram bilamana melanggar larangan atau tidak mampu untuk menghidupi keluarganya. Selain hal itu, islam juga mengatur tentang tata cara, rukun dan hal yang bersinggungan dengan adat istiadat.

Dengan mencoba berpikir jernih dan memandang dari segala sisi kehidupan, masyarakat atas nama agama dan/atau adat istiadat dapat mempunyai peranan kontrol untuk menekan angka pernikahan di usia muda dengan memberikan gambaran nyata serta dampak positif dan negatif pernikahan di usia muda dan selanjutnya mengembalikan ke pribadi masing-masing remaja untuk memikirkan dan memahami hal tersebut. Dengan ini harapannya mereka dapat mengetahui semua hal A hingga Z yang berkaitan dengan pernikahan serta tentunya meminimalisi dampak negatif yang diakibatkannya. Dan sangat jelas kiranya peran keluarga dalam persoalan ini sangat utama dan besar.

Pemerintah, di sisi yang lain, dengan seluruh lembaga formal dan kewenangannya harus mampu mengkomunikasikan betapa persoalan ini tidak dapat dikatakan sebagai persoalan yang sepele, karena persoalan ini juga menyangkut persoalan kestabilan ekonomi, keamanan, kependudukan, dan sisi kehidupan lainnya. BKKBN (Badan Kesejahteraan Keluarga Berencana Nasional) harus mampu menjelaskan bahwa meskipun undang-undang perkawinan menetapkan usia 16 tahun sebagai usia dewasa seorang perempuan dan 19 tahun seorang lelaki untuk menikah. Pada kenyataannya, kematangan seseorang banyak juga tergantung pada perkembangan emosi, latar belakang pendidikan, sosial, dan lain sebagainya. Dan juga perlu mendorong pasangan muda yang akan menikah untukk berpikir matang-matang apa tujuan berkeluarga sebenarnya yang mana menurut BKKBN fungsi keluarga meliputi segala sendi kehidupan agama, sosial budaya, kasih sayang, perlindungan, reproduksi sehat sejahtera, sosialisasi pendidikan, ekonomi dan pelestarian lingkungan. Pemerintah ada baiknya perlu juga untuk tidak menutup mata atas pengaruh media dan teknologi yang juga memberi pengaruh negatif dan meningkatkan angkat pernikahan di usia muda; tentunya jalan keluar itu harus mampu untuk mengurai permasalahan inti bukan sekedar menyalahkan perkembangan media dan teknologi semata.

Cerita dari Dini yang diperankan oleh artis Agnes Monica dalam sinetron berjudul “Pernikahan Dini” yang diproduksi oleh Prima Entertainment itu tentunya berujung bahagia ketika kedua belah pihak orang tua mereka mau menerima kenyataan dan memberikan dukungan atas kehidupan masa depan Dini selanjutnya. Cerita Dini tidak seirama dengan fenomena pernikahan usia muda yang dikarenakan ‘kenekatan’ atau pun yang dikarenakan ‘kecelakaan’ sebagaimana yang terjadi di kampung saya.

author
shining you and surrounding