Perbedaan Penentuan Awal Puasa Ramadhan

No comment 2201 views
perbedaan penentuan awal puasa

Gambar: viva

Perbedaan penentuan awal puasa Ramadhan – perbedaan awal puasa Ramadhan yang terjadi di Indonesia untuk beberapa organisasi keagamaan memang tidak bias dihindarkan. Perbedaan itu lebih karena perbedaan metode yang digunakan dalam penentuan awal dan akhir bulan hijriyah; setidaknya dapat dilihat dari dua organisasi muslim terbesar di Indonesia, yakni Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah.

NU dalam menentukan awal bulan Qomariyah (Hijriyah) pada awalnya hanya menerapkan metode rukyatul hilal, namun dalam perkembangannya juga mengkombinasikan dengan rukyat  berkualitas dengan dukungan hisab yang akurat sekaligus menerima kriteria imkanur rukyat. NU telah melakukan redefinisi hilal dan rukyat  menurut bahasa, Al-Qur’an, As-Sunnah dan menurut sains sebagai landasan dan pijakan kebijakannya dalam penentuan awal Ramadhan, dan jatuhnya hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Nu akan menentukan bulan baru manakala bulan baru yang terlihat setelah terbenamnya matahari setinggi 2 derajat, bila tidak maka bulan akan digenapkan menjadi 30 hari.

[iklan3]

Di pihak lain, Muhammadiyah lebih cenderung menerapkan penentuan awal bulan menggunakan metode hisab, meskipun tidak sepenuhnya menghilangkan proses rukyat. Hal ini beralasan bahwa berdasarkan perkembangan iptek dan pola kehidupan masyarakat maka pelaksanaan rukyat dilakukan dengan menggunakan hisab. Dengan metode hisab dari Muhammadiyah ini maka dianggap sudah memasuki bulan baru manakala sudah dapat dilihat wujudul hilal atau nampaknya bulan baru setelah terbenamnya matahari.

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang mana Muhammadiyah meskipun sudah menentukan awal bulan lebih dahulu namun tetap mengikuti sidang isbat yang diselenggarakan Kementerian Agama dengan beberapa organisasi muslim, tahun ini Muhammadiyah tidak akan mengikuti sidang isbat. Din Syamsudin yang merupakan Ketua Umum PP Muhammadiyah telah menjelaskan bahwa organisasi yang dipimpinnya telah mengajukan surat yang intinya tidak akan mengikuti proses sidang isbat, karena mereka beranggapan bahwa dalam sidang isbat tidak ada diskusi dan musyawarah dan lebih merupakan pikiran-pikiran subjektif pemerintah. Selain itu, pihaknya juga telah menentukan awal bulan puasa tahun ini yang diperkirakan akan jatuh pada 20 Juli 2012. (baca: viva.co.id)

Mediasi LAPAN dalam perbedaan penentuan awal puasa

Masih segar dalam ingatan saya akan sidang isbat yang dilaksanakan menjelang Idul Fitri 1433 H  yang dilaksanakan di gedung Kementerian Agama antara MUI dan beragam organisasi islam yang ada Indonesia. Ada dua hal yang membuat saya tertarik untuk akhirnya membuat tulisan ini:

Pertama, sidang yang diselenggarakan di Jakarta ini terlihat bertele-tele. Ada beberapa hal yang mungkin tidak perlu dibicarakan dalam pertemuan itu. Mengapa saya menganggap ini bertele-tele? Bila kita menilik alasan bahwa rapat yang disiarkan langsung oleh sebagian besar televisi nasional ini disaksikan oleh seluruh warga muslim yang ada di Indonesia. Warga dari seluruh pelosok negeri dan dari berbagai macam organisasi muslim yang menantikan keputusan Kementerian Agama tentang kapan hari raya Idul Fitri. Sidang ini baru selesai sekira di beberapa wilayah di Indonesia barat sudah melewati waktu Isya’, lebih-lebih bagi mereka yang tinggal di wilayah Indonesia tengah dan timur.  Apalagi sebelumnya PP Muhammadiyah telah menentukan terlebih dahulu kapan hari raya Idul Fitri jatuh semenjak awal bulan puasa tahun lalu.

Dengan molornya pengumuman ini, saya mengkhawatirkan akan terjadinya gesekan-gesekan di masyarakat grass root yang kadang kurang pandai menyikapi apa itu perbedaan. Mereka yang berada di masyarakat bawah mudah untuk tersulut provokasi manakala ada perbedaan yang menyangkut organisasi atau kelompok yang mereka ikuti. Namun, syukur Alhamdulillah. Apa yang saya sempat saya cemaskan ini tidaklah terjadi.

Kedua, salah seorang perwakilan dari LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) yang mengikuti sidang isbat tersebut mengungkapkan bahwa lembaganya bersedia untuk menjadi mediator dalam hal perbedaan penentuan awal puasa dan memberikan ruang diskusi seluas-luasnya sehingga semua organisasi muslim yang ada di Indonesia ini sepakat dengan adanya satu tanggal yang sama untuk awal puasa, idul fitri, atau pun idul adha. Dengan hal ini kesamaan tanggal ini harapannya akan terjadi harmonisasi seluruh warga muslim dengan beragam organisasi muslim yang mereka ikuti. Selain itu, sisi perekonomian pun akan tetap lancar dengan jadwal cuti yang tidak dibedakan oleh karena perbedaan tanggal tersebut.

[showmyads]

Namun, setelah hampir satu tahun hal itu berlalu, saya tidak pernah mendengar kabar akan adanya pertemuan dan diskusi yang digagas oleh LAPAN tersebut. Dan perbedaan penentuan awal puasa yang sudah pasti akan semua umat muslim Indonesia hadapi di bulan Ramadhan 1434 H kali ini pun tidak bisa terhindarkan lagi. Saya hanya bisa berharap bahwa perbedaan penentuan awal puasa Ramadhan ini akan menjadi spektrum warna dari keindahan keragaman yang memang diperbolehkan dalam Islam sendiri dan menjadi unsur demokrasi yang mendewasakan seluruh warga baik muslim atau pun non muslim akan makna perbedaan. Dan, mungkin saya tidak perlu khawatir akan terjadinya ketidakharmonisan dalam bentuk perselisihan, ancaman, dan kekerasan yang diakibatkan oleh adanya perbedaan penentuan awal puasa Ramadhan ini.

author
shining you and surrounding