Perbedaan Penentuan Awal Puasa Ramadhan

perbedaan penentuan awal puasa

Gambar: viva

Perbedaan penentuan awal puasa Ramadhan – perbedaan awal puasa Ramadhan yang terjadi di Indonesia untuk beberapa organisasi keagamaan memang tidak bias dihindarkan. Perbedaan itu lebih karena perbedaan metode yang digunakan dalam penentuan awal dan akhir bulan hijriyah; setidaknya dapat dilihat dari dua organisasi muslim terbesar di Indonesia, yakni Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah.

NU dalam menentukan awal bulan Qomariyah (Hijriyah) pada awalnya hanya menerapkan metode rukyatul hilal, namun dalam perkembangannya juga mengkombinasikan dengan rukyat  berkualitas dengan dukungan hisab yang akurat sekaligus menerima kriteria imkanur rukyat. NU telah melakukan redefinisi hilal dan rukyat  menurut bahasa, Al-Qur’an, As-Sunnah dan menurut sains sebagai landasan dan pijakan kebijakannya dalam penentuan awal Ramadhan, dan jatuhnya hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Nu akan menentukan bulan baru manakala bulan baru yang terlihat setelah terbenamnya matahari setinggi 2 derajat, bila tidak maka bulan akan digenapkan menjadi 30 hari.

[iklan3]

Di pihak lain, Muhammadiyah lebih cenderung menerapkan penentuan awal bulan menggunakan metode hisab, meskipun tidak sepenuhnya menghilangkan proses rukyat. Hal ini beralasan bahwa berdasarkan perkembangan iptek dan pola kehidupan masyarakat maka pelaksanaan rukyat dilakukan dengan menggunakan hisab. Dengan metode hisab dari Muhammadiyah ini maka dianggap sudah memasuki bulan baru manakala sudah dapat dilihat wujudul hilal atau nampaknya bulan baru setelah terbenamnya matahari.

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang mana Muhammadiyah meskipun sudah menentukan awal bulan lebih dahulu namun tetap mengikuti sidang isbat yang diselenggarakan Kementerian Agama dengan beberapa organisasi muslim, tahun ini Muhammadiyah tidak akan mengikuti sidang isbat. Din Syamsudin yang merupakan Ketua Umum PP Muhammadiyah telah menjelaskan bahwa organisasi yang dipimpinnya telah mengajukan surat yang intinya tidak akan mengikuti proses sidang isbat, karena mereka beranggapan bahwa dalam sidang isbat tidak ada diskusi dan musyawarah dan lebih merupakan pikiran-pikiran subjektif pemerintah. Selain itu, pihaknya juga telah menentukan awal bulan puasa tahun ini yang diperkirakan akan jatuh pada 20 Juli 2012. (baca: viva.co.id)

Mediasi LAPAN dalam perbedaan penentuan awal puasa

Masih segar dalam ingatan saya akan sidang isbat yang dilaksanakan menjelang Idul Fitri 1433 H  yang dilaksanakan di gedung Kementerian Agama antara MUI dan beragam organisasi islam yang ada Indonesia. Ada dua hal yang membuat saya tertarik untuk akhirnya membuat tulisan ini:

Pertama, sidang yang diselenggarakan di Jakarta ini terlihat bertele-tele. Ada beberapa hal yang mungkin tidak perlu dibicarakan dalam pertemuan itu. Mengapa saya menganggap ini bertele-tele? Bila kita menilik alasan bahwa rapat yang disiarkan langsung oleh sebagian besar televisi nasional ini disaksikan oleh seluruh warga muslim yang ada di Indonesia. Warga dari seluruh pelosok negeri dan dari berbagai macam organisasi muslim yang menantikan keputusan Kementerian Agama tentang kapan hari raya Idul Fitri. Sidang ini baru selesai sekira di beberapa wilayah di Indonesia barat sudah melewati waktu Isya’, lebih-lebih bagi mereka yang tinggal di wilayah Indonesia tengah dan timur.  Apalagi sebelumnya PP Muhammadiyah telah menentukan terlebih dahulu kapan hari raya Idul Fitri jatuh semenjak awal bulan puasa tahun lalu.

Dengan molornya pengumuman ini, saya mengkhawatirkan akan terjadinya gesekan-gesekan di masyarakat grass root yang kadang kurang pandai menyikapi apa itu perbedaan. Mereka yang berada di masyarakat bawah mudah untuk tersulut provokasi manakala ada perbedaan yang menyangkut organisasi atau kelompok yang mereka ikuti. Namun, syukur Alhamdulillah. Apa yang saya sempat saya cemaskan ini tidaklah terjadi.

Kedua, salah seorang perwakilan dari LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) yang mengikuti sidang isbat tersebut mengungkapkan bahwa lembaganya bersedia untuk menjadi mediator dalam hal perbedaan penentuan awal puasa dan memberikan ruang diskusi seluas-luasnya sehingga semua organisasi muslim yang ada di Indonesia ini sepakat dengan adanya satu tanggal yang sama untuk awal puasa, idul fitri, atau pun idul adha. Dengan hal ini kesamaan tanggal ini harapannya akan terjadi harmonisasi seluruh warga muslim dengan beragam organisasi muslim yang mereka ikuti. Selain itu, sisi perekonomian pun akan tetap lancar dengan jadwal cuti yang tidak dibedakan oleh karena perbedaan tanggal tersebut.

[showmyads]

Namun, setelah hampir satu tahun hal itu berlalu, saya tidak pernah mendengar kabar akan adanya pertemuan dan diskusi yang digagas oleh LAPAN tersebut. Dan perbedaan penentuan awal puasa yang sudah pasti akan semua umat muslim Indonesia hadapi di bulan Ramadhan 1434 H kali ini pun tidak bisa terhindarkan lagi. Saya hanya bisa berharap bahwa perbedaan penentuan awal puasa Ramadhan ini akan menjadi spektrum warna dari keindahan keragaman yang memang diperbolehkan dalam Islam sendiri dan menjadi unsur demokrasi yang mendewasakan seluruh warga baik muslim atau pun non muslim akan makna perbedaan. Dan, mungkin saya tidak perlu khawatir akan terjadinya ketidakharmonisan dalam bentuk perselisihan, ancaman, dan kekerasan yang diakibatkan oleh adanya perbedaan penentuan awal puasa Ramadhan ini.

0 Comments

  1. Arief said:

    wallahu a’lam

    barang siapa yang melakukan ijtihad dan hasilnya meleset maka ia mendapat 1 kebajikan

    siapa yang sudah berijtihat dan benar maka baginya 2 kebajikan.

    jadi apapun keputusannya, asalkan sudah diperhitungkan dengan seteliti-telitinya, insya Allah hasilnya akan baik

    • shining allspark said:

      Perbedaan itulah yang menunjukkan bahwa pengetahuan manusia itu masih terbatas. Dengan hal itu, umat senantiasa perlu menambah ilmu pengetahuan baik agama atau pun ilmu pengetahuan umum, dan itu juga yang diisyaratkan dari 5 ayat pertama yang diturunkan pada Nabi kita, Muhammad SAW.

  2. Malik said:

    Sebenarnya baik dari LAPAN maupun NU, sudah mengetahui bahwa tgl 20 Juli 2012 nanti bulan sudah diatas ufuk, ibarat jam sudah melewati angka 12, sayangnya pemerintah mematok bulan harus lebih dari 2 derajat atau sampai terlihat oleh mata telanjang.

    Dan Muhammadiyah berpatokan di atas 0 derajat. persi seperti hitungan jam. jika sudah melewati angka 12 maka sudah masuk ke jam berikutnya..

    Nah mengenai sidang isbat di tahun 2011 lalu, sidang tersebut terkesan penggumuman dan pemaksaan serta penipuan. dan tidak ada diskusi bahkan saksi yang melihat bulan dimalam itupun ditolak mentah-mentah.

    “LAPAN bersedia untuk menjadi mediator”

    LAPAN akhir2 ini terkesan seperti seorang ulama yang berhak menyalahkan pendapat kelompok lain dengan mengeluarkan beberapa dalil dari qur’an dan hadits, dan selalu menyudutkan Muhammadiyah, padahal LAPAN semestinya tidak berada di wilayah itu. Dan mulai tahun ini Muhammadiyah tidak akan mengikuti sidang isbat, dikarenakan hal2 tersebut.

    OK, Selamat menyambut bulan ramadhan yang dipenuhi dengan keberkahan!!

    Awal Ramadhan sesuai kepercayaan masing2 !! :D
    tetap jaga ukhuwah !!

    • shining allspark said:

      Memang melihat apa yang terjadi di tahun kemarin, salah seorang perwakilan dari Muhammadiyah ada yang agak tersinggung dengan pernyataan yang dikeluarkan oleh perwakilan dari LAPAN. Seolah-olah menyudutkan pihak Muhammadiyah yang sudah mengeluarkan keputusan jauh di awal Bulan Ramadhan. Dari salah satu blog yang dimiliki oleh orang LAPAN, di situ kita dapat melihat banyak dalil-dalil yang memang digunakan baik itu NU atau pun Muhammadiyah.
      Meskipun terkesan menyudutkan salah satu pihak, namun saya berpikir tidak akan ada salahnya untuk menyambut niat baik dari LAPAN ini. Dan berharap semua pihak dapat duduk satu meja dan mendiskusikan hal-hal demi kemaslahatan umat. Walaupun seumpama akhirnya tidak mencapai satu kesepatan bersama, setidaknya sudah berusaha.

      Selamat menyambut Bulan penuh berkah, Ramadhan 1434 H.

        • shining allspark said:

          ajakan untuk bermusyawarah tidak dapat saya katakan atau pun saya prasangkakan sebagai niatan buruk dari LAPAN. Musyawarah juga itu yang disarankan oleh Al-qur’an dan Hadits. Kalau memang Muhammadiyah merasa selalu tersudutkan oleh pernyataan-pernyataan dari LAPAN, ada baiknya Muhammadiyah mencoba memberikan alasan dalam musyawarah tersebut.

          • Malik said:

            Mediator itu sama dengan hakim atau wasit HARUS adil dan tidak memihak! jika mediator sudah memihak kepada salah satu kelompok, maka syarat untuk mengadakan suatu diskusi/musyawarah yang sehat sudah dilanggar. artinya tidak memenuhi syarat untuk melakukan diskusi yang sehat.

            Musyawarah tentang awal bulan Hijriah sudah sering dilakukan, dan hasilnya seperti yang kita lihat sekarang.. Muhammadiyah dan NU juga saling menghormati!! lalu siapa yang sering mempermasalahkan ??

            Kita terima saja perbedaan ini, karena memang masing2 memiliki cara yang berbeda dan sulit dipertemukan.. jika harus mengikuti ulil amri minkum, ingat negara kita bukan negara ISLAM..

            Afwan.

          • shining allspark said:

            Seperti di akhir dari tulisan saya yang menyebutkan bahwa kalau memang perbedaan ini tidak dapat disamakan, kita harus legowo menerima nash bahwa perbedaan itulah yang justru membuat keindahan. Keindahan dengan kerukunan baik yang mengikuti NU atau pun Muhammadiyah.

            Dan untuk persoalan LAPAN, setelah saya membaca dan mencermati beberapa tulisan dan pernyataan dan tentunya juga pandangan dari Mas Malik, membuat saya berpikir ulang tentang peranan lembaga ini. Apa yang kemarin saya tulis itupun hanyalah pendapat saya yang ternyata kurang dilengkapi dengan data dan fakta mengenai apa yang pernyataan dan sikap dari LAPAN itu sendiri.

            Terima kasih pada Mas Malik dan beberapa teman yang memberikan komentar tentang hal ini yang telah memberikan pandangan yang lebih luas dan jelas. Syukron.

*

*

Top